Cerpen cerita romantis di kota kembang
CERITA ROMANTIS DI KOTA KEMBANG
OLEH: MUGIARNI
Sore itu , kota Bandung sangat ramai. Aku berjalan menyusuri kota itu. Dan aku sendiri tidak tahu, kemana kakiku harus melangkah.Di bawah langit biru dengan awan bergulung-gulung aku berjalan dalam kesendirian. Sementara aku terus bejuang untuk menghindarkan diri dari kepulan asap kendaraan bermotor. Ditambah lagi aku harus bertahan dari berbagai suara klakson yang bunyinya cukup memekakkan telinga. Ingin ku teriak, tapi rasanya aku tak mampu untuk mengekspresikan diri.
Kota Bandung memiliki kenangan tersendiri buatku.Kini hidupku terasa sunyi dan sepi sejak orang yang aku cintai itu pergi dari kehidupanku.
***
Tatkala hujan rintik-rintik di sore itu, aku kembali terkenang dengan sosok pria pujaanku.Meski dengan mengingatnya kembali, hatiku merasa sedih.Oh…ya, di antara kau dan aku sekedar teman biasa.Tak lebih dari itu.Jika ada perasaan yang lebih di antara kita berdua, anggap saja itu semacam hubungan kekeluargaan.Tapi yang pasti, bukan hubungan seperti kisah Romeo dan Juliet.
***
Di pusat pertokoan yang teramat ramai di kota Bandung kisah ini berawal .Di situlah awal mula kami bertemu.
“Neng, Toilet dimana, ya?” Pertanyaannya membuat aku tersentak kaget, karena aku sedang mengecek nota belanjaanku .
Aku hanya menunjuk ke arah toilet itu dengan jari telunjukku. Sementara wajahku masih tertunduk untuk mengamati berbagai jenis barang dan harga pada sebuah nota belanjaan yang tengah aku pegang dengan tangan kiriku. Sementara tangan kananku memegang sebuah pensil yang kugunakan untuk menunjuk setiap jenis barang yang telah aku beli.Kala itu aku baru pulang kerja, lalu kuluangkan waktuku sejenak untuk berbelanja berbagai keperluanku, dan sebagian untuk membelanjakan barang-barang untuk keperluan ibuku yang dapat di konsumsi untuk sehari-hari.Dan hari ini kebetulan aku habis gajian.Aku bekerja sebagai seorang kasir di sebuah toko di area pusat perbelanjaan.Sebagai seorang anak yang berbakti kepada ayah dan ibu, dengan senang hati apabila sehabis gajian aku juga berbagi dengan mereka.Meskipun jumlah yang aku berikan itu tidaklah dalam jumlah yang banyak. Bahkan ibuku sering berpesan “ Nin, kalau kamu habis gajian, kamu jangan lantas membelikan semua barang- barang keperluan buat ibu. Lebih baik kamu tabung untuk masa depanmu nanti!’
Esoknya saat menikmati makan baso di kafetaria di area pusat perbelanjaan itu, mataku tak sengaja beradu pandang dengan pria yang kemarin menanyakan toilet itu. Aku sengaja bersikap sewajar mungkin dihadapannya dengan mengalihkan pandangan pada ponselku yang saat itu masih aku genggam, dan kebetulan posisi duduk aku berada di pojok menghadap tembok. Saat menikmati baso kulihat ada seorang bocah yang menjajakan kacang bawang, lalu aku melambaikan tangan dengan bahasa isyarat bila diriku akan membeli kacang bawang yang sedang ia jajakan.Aku pun membelinya. Maksud hati ingin membayar kacang bawang itu, tapi yang terjadi justru dari dalam dompet yang sedang aku buka itu, terjatuh kepingan uang logam senilai Rp 1000 lalu uang logam itu menggelinding tepat di kolong meja pria itu. Seketika itu , mukaku memerah.
Dengan menahan rasa malu kupaksakan diri meminta maaf kepadanya.Rona merah yang sempat kubayangkan muncul di wajahnya ternyata itu tidak terbukti. Justru ia tersenyum padaku. Lalu pria itu memungut kepingan uang logam itu untuk disodorkan padaku. Akupun menerima uang koin yang ia sodorkan dengan hati tak menentu.Kemudian aku membayar kacang bawang itu dengan uang kertas tanpa meminta uang kembalian.Bocah penjaja kacang bawang itu segera berlalu dari kafetaria dengan riang gembira.
Sudah menjadi kebiaasaanku, saat menikmati baso ditabur dengan kacang bawang.Rasanya lebih berselera.Tapi yang pasti setiap orang memiliki cita rasa yang berbeda.
Dia memperkenalkan diri, Ternyata namanya Dava.Postur tubuhnya tinggi, berkumis tipis, bila tersenyum nampak sederet gigi yang tertata rapi.Kurasa senyum itulah yang menjadi daya tarik utamanya. Kulitnya hitam manis dan bersih sangat terawat.Ia seorang manajer.
Melihat sikapnya yang ramah, akupun memperkenalkan diri.
“Aku Nina, dari Purwokerto”
Waktu bersamanya di kafetaria itupun berlalu.Aku terkesan bahwa dia seorang pria yang sopan santun, mudah akrab, seolah kami sudah berteman lama.
***
Kini hari-hariku diliputi dengan suasana riang gembira.Perkenalanku dengannya serasa membuat hidupku penuh makna, memberi warna bagi kehidupanku.
Merasa senasib karena sama-sama bekerja di area pusat perbelanjaan.Pertemuan sering terjadi walau tak di sengaja.Kadang di ruang parkir, kadang di mushola.Tapi yang paling sering adalah bertemu di kafetaria.
“Sudah makan belum?Hari ini biar aku yang traktir!’
Hm…lagu lama, pikirku.Namun aku tak tepengaruh oleh ajakannya.Sebab aku tidak ingin terjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengannya.Aku juga ingin menunjukan bahwa aku bukan wanita yang terlalu mudah menerima ajakan untuk di traktir makan. Lain halnya apabila makan bersama ia itu karena tanpa adanya unsur kesengajaan, ataupun karena kebetulan saja sedang kepergok di kantin itu.
Dia malah tergelak sambil bergumam” Jaga gengsi, nih”
“Memangnya aku ini typekal seorang cewek yang suka di traktir! Jangan-jangan ada maunya,nih!
Dia malah tertawa lebar.
“Kalau begitu kita berjanji kalau diantara kita hanya sebatas teman biasa saja!’
“ Ya iyalah, hanya sebatas teman” katanya dengan nada ringan dan tanpa adanya suatu beban.
***
Sejak itu pertemuan kerap terjadi.Hingga tak kusadari waktupun cepat berlalu.Tiada jemu untuk saling menyapa bila saling bertemu.Hari-hariku diwarnai oleh canda dan tawa. Tapi terkadang tanpa ia sadari, kata –kata yang terlontar olehnya seperti ungkapan teman tapi mesra.
Di dalam otaknya seperti tersimpan bermacam ide yang selalu membuatku jadi tertawa riang gembira.Tapi kelihatannya seperti spontan begitu saja.
Setiap malam sebelum aku tidur, dia menelponku untuk sekedar berbincang- bincang ataupun bercanda sepertinya biasa saja, namun memiliki sebuah makna yang sangat mendalam.Lalu menjadi rutinitas hariannya untuk mengucapkan kata, selamat tidur. Ataupun ia menanyakan jadwal kerjaku. Bahkan seringkali menanyakan besok mau makan di mana?.
Dia sangat terlihat menikmati pekerjaannya di pusat perbelanjaan di kota Bandung. Sama halnya sepertiku, bekerja dengan memaksimalkan segala potensi yang aku miliki, meski hanya sebagai seorang kasir.
Hingga pada suatu hari ia bercerita kalau dirinya akan mutasi kerja ke Surabaya .Pria itupun memutuskan akan segera pindah ke Surabaya.
Seakan tak percaya kalau dirinyaakan pindah secepat ini. Malam harinya , ia mengajakku berjalan-jalan.Berkeliling mengitari kawasan berbukit di daearah itu yang udaranya sangat sejuk.
“Nanti malam kita berkeliling di daerah perbukitan, ya?”
Dengan motor gede keluaran terbaru di tahun itu, kami menuju sebuah tepi bukit. Udara terasa sejuk, menjadi favorit kaum muda- mudi untuk melepas lelah dan segala kepenatan yang dirasakannya setelah bekerja di akhir pekan. Sembari menikmati sate kambing dan semangkok sop untuk menghangatkan badan, kami bebagi canda dan tawa.
Hari perpisahan itu pun datang melalui malam selepas senja. Saat ia menatapku , seolah-olah dirinya mengungkapkan isi hatinya yang sulit ku terjemahkan. Tapi yang kurasakan setelah ia menatapku, hatiku berdegup kencang. Kami larut dalam suasana romantic, tanpa suara dan percakapan.
Kala itu langit cerah.Cahaya lampu kerlap kerlip menghiasi daerah perbukitan itu, menambah suasana semakin romantis. Rasa bahagia yang sulit kulukiskan dengan kata-kata hadir dalam jiwaku. Meski aku telah berjanji padanya, bila hubunganku dengannya hanyalah sebatas teman dan takakan lebih dari itu.
Semilir angin di tepi bukit seolah membawa nyanyian sorga, mengantarkan getar-getar asmara di malam itu. Saat ia menggenggam tanganku, aku tak lagi menolaknya. Apakah ini yang dinamakan hubungan teman tapi mesra? Mengapa perpisahan ini begitu cepat?.
“Apa kamu mau menambah semangkuk sop?” Tanyanya, lalu menatapku dengan mesra. Sebuah tatapan yang tak akan kujumpai lagi setelah malam ini.
“Sudah cukup. Ini saja rasanya sudah kenyang”
Malam itu kami berceita tentang apa saja, tentang kehidupan. Baik itu cerita sedih ataupun cerita yang menyenangkan.Aku sendiri pun tidak tahu, apakah setelah ini ada kesempatan lagi untuk bertemu dengannya.
Udara malam di tepi bukit semakin terasa dingin.Ia memapahku ke saung di tepi bukit, lalu kami duduk berdua. Udara terasa lebih hangat, dan kamipun bisa lebih santai menikmati malam yang begitu indah.Tanpa ada seseorang yang datang menganggu.
Sesaat bayangan Ravi hadir dalam ingatanku.Kekasihku yang berlayar ke Korea.Ia telah berjanji untuk mencintaiku sampai akhir hayat. Apakah kepergianku dengan pria itu adalah bukti bawa aku telah menghianati cintanya?.Apakah ini yang dinamakan dengan cinta sesaat.
***
Keesokan harinya aku datang ke rumahnya untuk melepas kepergiannya, Ia pergi dengan menaiki mobil pribadinya. Kuucapkan selamat jalan dengan menahan rasa pilu di dada.Ingin rasanya aku menahan kepergiannya ke Surabaya. Namun aku tak mampu melakukan itu.Walaupun aku harus mengejarnya lari dengan kecepatan tinggi untuk mengikuti laju kendaraan yang membawanya pergi. Karena aku tahu, semua yang aku lakukan itu sungguh suatu kesia-siaan. Laksana tetes- tetes air yang basah tergantung pada sebuah kawat, air mataku terus menetes.
Pria itu pergi meninggalkan aku sendiri di kota kembang Bandung, tanpa adanya suatu ungkapan yang tulus dari kedalaman hatiku bahwa saat ini aku telah jatuh cinta kepadanya. Selama ini, perjumpaanku dengannya telah menumbuhkan ikatan batin yang menjadi benih cinta.Aku baru menyadarinya sekarang, benih cinta itu telah tumbuh dan bersemi di dalam hati. Biarlah aku ingkar pada cahaya-cahaya lampu yang menyinari kala malam di tepi bukit tempat di mana aku dan dia menghilangkan rasa penat pada akhir pekan setelah seminggu bekerja di pusat pertokoan di kota Bandung.
Selama matahari terbit dan menyinari bumi, akan selalu ada kisah cinta dimana kaum hawa yang telah mengingkari pada nalurinya sendiri, Lalu ia baru menyadarinya saat pria itu telah pergi dari kehidupannya. Setelah aku menyadari semua itu, aku hanya diam terpaku.Kini yang kudapati hanya ada pepohonan yang daunnya tergerak oleh terpaan angin.Andai angin mampu bersuara, kutitipkan pesan padanya” Kembalilah padaku, dan aku akan mencintainya untuk selamanya!”
Ya Rabb, Kuatkanlah hati hamba....!
Sosok yang sering berbagi cerita dan bercanda tawa, kini tiada lagi. Pohon yang menjulang tinggi, tak mampu membuatnya hadir dan menyapaku, walau itu hanya sekejap.Hanya ada semilir angin yang menerpa jiwaku yang kini terasa hampa tak ada lagi nyanyian sorga.
Ya Rabb, Jadikanlah hambamu ini sebagai orang yang sabar, laksana hati seluas samudra.
Dengan mengingat bayangannya, hati semakin tersiksa.
Ya Rabb, Ampunilah segala dosa-dosa hamba. Hamba akan berdzikir untuk selalu mengingatmu. Jadikanlah hamba sebagai seorang yang bisa menerima segala apapun ketentuan dari Mu.
selesai
N
Tem
K
CERITA ROMANTIS DI KOTA KEMBANG
OLEH: MUGIARNI
Sore itu , kota Bandung sangat ramai. Aku berjalan menyusuri kota itu. Dan aku sendiri tidak tahu, kemana kakiku harus melangkah.Di bawah langit biru dengan awan bergulung-gulung aku berjalan dalam kesendirian. Sementara aku terus bejuang untuk menghindarkan diri dari kepulan asap kendaraan bermotor. Ditambah lagi aku harus bertahan dari berbagai suara klakson yang bunyinya cukup memekakkan telinga. Ingin ku teriak, tapi rasanya aku tak mampu untuk mengekspresikan diri.
Kota Bandung memiliki kenangan tersendiri buatku.Kini hidupku terasa sunyi dan sepi sejak orang yang aku cintai itu pergi dari kehidupanku.
***
Tatkala hujan rintik-rintik di sore itu, aku kembali terkenang dengan sosok pria pujaanku.Meski dengan mengingatnya kembali, hatiku merasa sedih.Oh…ya, di antara kau dan aku sekedar teman biasa.Tak lebih dari itu.Jika ada perasaan yang lebih di antara kita berdua, anggap saja itu semacam hubungan kekeluargaan.Tapi yang pasti, bukan hubungan seperti kisah Romeo dan Juliet.
***
Di pusat pertokoan yang teramat ramai di kota Bandung kisah ini berawal .Di situlah awal mula kami bertemu.
“Neng, Toilet dimana, ya?” Pertanyaannya membuat aku tersentak kaget, karena aku sedang mengecek nota belanjaanku .
Aku hanya menunjuk ke arah toilet itu dengan jari telunjukku. Sementara wajahku masih tertunduk untuk mengamati berbagai jenis barang dan harga pada sebuah nota belanjaan yang tengah aku pegang dengan tangan kiriku. Sementara tangan kananku memegang sebuah pensil yang kugunakan untuk menunjuk setiap jenis barang yang telah aku beli.Kala itu aku baru pulang kerja, lalu kuluangkan waktuku sejenak untuk berbelanja berbagai keperluanku, dan sebagian untuk membelanjakan barang-barang untuk keperluan ibuku yang dapat di konsumsi untuk sehari-hari.Dan hari ini kebetulan aku habis gajian.Aku bekerja sebagai seorang kasir di sebuah toko di area pusat perbelanjaan.Sebagai seorang anak yang berbakti kepada ayah dan ibu, dengan senang hati apabila sehabis gajian aku juga berbagi dengan mereka.Meskipun jumlah yang aku berikan itu tidaklah dalam jumlah yang banyak. Bahkan ibuku sering berpesan “ Nin, kalau kamu habis gajian, kamu jangan lantas membelikan semua barang- barang keperluan buat ibu. Lebih baik kamu tabung untuk masa depanmu nanti!’
Esoknya saat menikmati makan baso di kafetaria di area pusat perbelanjaan itu, mataku tak sengaja beradu pandang dengan pria yang kemarin menanyakan toilet itu. Aku sengaja bersikap sewajar mungkin dihadapannya dengan mengalihkan pandangan pada ponselku yang saat itu masih aku genggam, dan kebetulan posisi duduk aku berada di pojok menghadap tembok. Saat menikmati baso kulihat ada seorang bocah yang menjajakan kacang bawang, lalu aku melambaikan tangan dengan bahasa isyarat bila diriku akan membeli kacang bawang yang sedang ia jajakan.Aku pun membelinya. Maksud hati ingin membayar kacang bawang itu, tapi yang terjadi justru dari dalam dompet yang sedang aku buka itu, terjatuh kepingan uang logam senilai Rp 1000 lalu uang logam itu menggelinding tepat di kolong meja pria itu. Seketika itu , mukaku memerah.
Dengan menahan rasa malu kupaksakan diri meminta maaf kepadanya.Rona merah yang sempat kubayangkan muncul di wajahnya ternyata itu tidak terbukti. Justru ia tersenyum padaku. Lalu pria itu memungut kepingan uang logam itu untuk disodorkan padaku. Akupun menerima uang koin yang ia sodorkan dengan hati tak menentu.Kemudian aku membayar kacang bawang itu dengan uang kertas tanpa meminta uang kembalian.Bocah penjaja kacang bawang itu segera berlalu dari kafetaria dengan riang gembira.
Sudah menjadi kebiaasaanku, saat menikmati baso ditabur dengan kacang bawang.Rasanya lebih berselera.Tapi yang pasti setiap orang memiliki cita rasa yang berbeda.
Dia memperkenalkan diri, Ternyata namanya Dava.Postur tubuhnya tinggi, berkumis tipis, bila tersenyum nampak sederet gigi yang tertata rapi.Kurasa senyum itulah yang menjadi daya tarik utamanya. Kulitnya hitam manis dan bersih sangat terawat.Ia seorang manajer.
Melihat sikapnya yang ramah, akupun memperkenalkan diri.
“Aku Nina, dari Purwokerto”
Waktu bersamanya di kafetaria itupun berlalu.Aku terkesan bahwa dia seorang pria yang sopan santun, mudah akrab, seolah kami sudah berteman lama.
***
Kini hari-hariku diliputi dengan suasana riang gembira.Perkenalanku dengannya serasa membuat hidupku penuh makna, memberi warna bagi kehidupanku.
Merasa senasib karena sama-sama bekerja di area pusat perbelanjaan.Pertemuan sering terjadi walau tak di sengaja.Kadang di ruang parkir, kadang di mushola.Tapi yang paling sering adalah bertemu di kafetaria.
“Sudah makan belum?Hari ini biar aku yang traktir!’
Hm…lagu lama, pikirku.Namun aku tak tepengaruh oleh ajakannya.Sebab aku tidak ingin terjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengannya.Aku juga ingin menunjukan bahwa aku bukan wanita yang terlalu mudah menerima ajakan untuk di traktir makan. Lain halnya apabila makan bersama ia itu karena tanpa adanya unsur kesengajaan, ataupun karena kebetulan saja sedang kepergok di kantin itu.
Dia malah tergelak sambil bergumam” Jaga gengsi, nih”
“Memangnya aku ini typekal seorang cewek yang suka di traktir! Jangan-jangan ada maunya,nih!
Dia malah tertawa lebar.
“Kalau begitu kita berjanji kalau diantara kita hanya sebatas teman biasa saja!’
“ Ya iyalah, hanya sebatas teman” katanya dengan nada ringan dan tanpa adanya suatu beban.
***
Sejak itu pertemuan kerap terjadi.Hingga tak kusadari waktupun cepat berlalu.Tiada jemu untuk saling menyapa bila saling bertemu.Hari-hariku diwarnai oleh canda dan tawa. Tapi terkadang tanpa ia sadari, kata –kata yang terlontar olehnya seperti ungkapan teman tapi mesra.
Di dalam otaknya seperti tersimpan bermacam ide yang selalu membuatku jadi tertawa riang gembira.Tapi kelihatannya seperti spontan begitu saja.
Setiap malam sebelum aku tidur, dia menelponku untuk sekedar berbincang- bincang ataupun bercanda sepertinya biasa saja, namun memiliki sebuah makna yang sangat mendalam.Lalu menjadi rutinitas hariannya untuk mengucapkan kata, selamat tidur. Ataupun ia menanyakan jadwal kerjaku. Bahkan seringkali menanyakan besok mau makan di mana?.
Dia sangat terlihat menikmati pekerjaannya di pusat perbelanjaan di kota Bandung. Sama halnya sepertiku, bekerja dengan memaksimalkan segala potensi yang aku miliki, meski hanya sebagai seorang kasir.
Hingga pada suatu hari ia bercerita kalau dirinya akan mutasi kerja ke Surabaya .Pria itupun memutuskan akan segera pindah ke Surabaya.
Seakan tak percaya kalau dirinyaakan pindah secepat ini. Malam harinya , ia mengajakku berjalan-jalan.Berkeliling mengitari kawasan berbukit di daearah itu yang udaranya sangat sejuk.
“Nanti malam kita berkeliling di daerah perbukitan, ya?”
Dengan motor gede keluaran terbaru di tahun itu, kami menuju sebuah tepi bukit. Udara terasa sejuk, menjadi favorit kaum muda- mudi untuk melepas lelah dan segala kepenatan yang dirasakannya setelah bekerja di akhir pekan. Sembari menikmati sate kambing dan semangkok sop untuk menghangatkan badan, kami bebagi canda dan tawa.
Hari perpisahan itu pun datang melalui malam selepas senja. Saat ia menatapku , seolah-olah dirinya mengungkapkan isi hatinya yang sulit ku terjemahkan. Tapi yang kurasakan setelah ia menatapku, hatiku berdegup kencang. Kami larut dalam suasana romantic, tanpa suara dan percakapan.
Kala itu langit cerah.Cahaya lampu kerlap kerlip menghiasi daerah perbukitan itu, menambah suasana semakin romantis. Rasa bahagia yang sulit kulukiskan dengan kata-kata hadir dalam jiwaku. Meski aku telah berjanji padanya, bila hubunganku dengannya hanyalah sebatas teman dan takakan lebih dari itu.
Semilir angin di tepi bukit seolah membawa nyanyian sorga, mengantarkan getar-getar asmara di malam itu. Saat ia menggenggam tanganku, aku tak lagi menolaknya. Apakah ini yang dinamakan hubungan teman tapi mesra? Mengapa perpisahan ini begitu cepat?.
“Apa kamu mau menambah semangkuk sop?” Tanyanya, lalu menatapku dengan mesra. Sebuah tatapan yang tak akan kujumpai lagi setelah malam ini.
“Sudah cukup. Ini saja rasanya sudah kenyang”
Malam itu kami berceita tentang apa saja, tentang kehidupan. Baik itu cerita sedih ataupun cerita yang menyenangkan.Aku sendiri pun tidak tahu, apakah setelah ini ada kesempatan lagi untuk bertemu dengannya.
Udara malam di tepi bukit semakin terasa dingin.Ia memapahku ke saung di tepi bukit, lalu kami duduk berdua. Udara terasa lebih hangat, dan kamipun bisa lebih santai menikmati malam yang begitu indah.Tanpa ada seseorang yang datang menganggu.
Sesaat bayangan Ravi hadir dalam ingatanku.Kekasihku yang berlayar ke Korea.Ia telah berjanji untuk mencintaiku sampai akhir hayat. Apakah kepergianku dengan pria itu adalah bukti bawa aku telah menghianati cintanya?.Apakah ini yang dinamakan dengan cinta sesaat.
***
Keesokan harinya aku datang ke rumahnya untuk melepas kepergiannya, Ia pergi dengan menaiki mobil pribadinya. Kuucapkan selamat jalan dengan menahan rasa pilu di dada.Ingin rasanya aku menahan kepergiannya ke Surabaya. Namun aku tak mampu melakukan itu.Walaupun aku harus mengejarnya lari dengan kecepatan tinggi untuk mengikuti laju kendaraan yang membawanya pergi. Karena aku tahu, semua yang aku lakukan itu sungguh suatu kesia-siaan. Laksana tetes- tetes air yang basah tergantung pada sebuah kawat, air mataku terus menetes.
Pria itu pergi meninggalkan aku sendiri di kota kembang Bandung, tanpa adanya suatu ungkapan yang tulus dari kedalaman hatiku bahwa saat ini aku telah jatuh cinta kepadanya. Selama ini, perjumpaanku dengannya telah menumbuhkan ikatan batin yang menjadi benih cinta.Aku baru menyadarinya sekarang, benih cinta itu telah tumbuh dan bersemi di dalam hati. Biarlah aku ingkar pada cahaya-cahaya lampu yang menyinari kala malam di tepi bukit tempat di mana aku dan dia menghilangkan rasa penat pada akhir pekan setelah seminggu bekerja di pusat pertokoan di kota Bandung.
Selama matahari terbit dan menyinari bumi, akan selalu ada kisah cinta dimana kaum hawa yang telah mengingkari pada nalurinya sendiri, Lalu ia baru menyadarinya saat pria itu telah pergi dari kehidupannya. Setelah aku menyadari semua itu, aku hanya diam terpaku.Kini yang kudapati hanya ada pepohonan yang daunnya tergerak oleh terpaan angin.Andai angin mampu bersuara, kutitipkan pesan padanya” Kembalilah padaku, dan aku akan mencintainya untuk selamanya!”
Ya Rabb, Kuatkanlah hati hamba....!
Sosok yang sering berbagi cerita dan bercanda tawa, kini tiada lagi. Pohon yang menjulang tinggi, tak mampu membuatnya hadir dan menyapaku, walau itu hanya sekejap.Hanya ada semilir angin yang menerpa jiwaku yang kini terasa hampa tak ada lagi nyanyian sorga.
Ya Rabb, Jadikanlah hambamu ini sebagai orang yang sabar, laksana hati seluas samudra.
Dengan mengingat bayangannya, hati semakin tersiksa.
Ya Rabb, Ampunilah segala dosa-dosa hamba. Hamba akan berdzikir untuk selalu mengingatmu. Jadikanlah hamba sebagai seorang yang bisa menerima segala apapun ketentuan dari Mu.
selesai
N
Tem
K
CERITA ROMANTIS DI KOTA KEMBANG
OLEH: MUGIARNI
Sore itu , kota Bandung sangat ramai. Aku berjalan menyusuri kota itu. Dan aku sendiri tidak tahu, kemana kakiku harus melangkah.Di bawah langit biru dengan awan bergulung-gulung aku berjalan dalam kesendirian. Sementara aku terus bejuang untuk menghindarkan diri dari kepulan asap kendaraan bermotor. Ditambah lagi aku harus bertahan dari berbagai suara klakson yang bunyinya cukup memekakkan telinga. Ingin ku teriak, tapi rasanya aku tak mampu untuk mengekspresikan diri.
Kota Bandung memiliki kenangan tersendiri buatku.Kini hidupku terasa sunyi dan sepi sejak orang yang aku cintai itu pergi dari kehidupanku.
***
Tatkala hujan rintik-rintik di sore itu, aku kembali terkenang dengan sosok pria pujaanku.Meski dengan mengingatnya kembali, hatiku merasa sedih.Oh…ya, di antara kau dan aku sekedar teman biasa.Tak lebih dari itu.Jika ada perasaan yang lebih di antara kita berdua, anggap saja itu semacam hubungan kekeluargaan.Tapi yang pasti, bukan hubungan seperti kisah Romeo dan Juliet.
***
Di pusat pertokoan yang teramat ramai di kota Bandung kisah ini berawal .Di situlah awal mula kami bertemu.
“Neng, Toilet dimana, ya?” Pertanyaannya membuat aku tersentak kaget, karena aku sedang mengecek nota belanjaanku .
Aku hanya menunjuk ke arah toilet itu dengan jari telunjukku. Sementara wajahku masih tertunduk untuk mengamati berbagai jenis barang dan harga pada sebuah nota belanjaan yang tengah aku pegang dengan tangan kiriku. Sementara tangan kananku memegang sebuah pensil yang kugunakan untuk menunjuk setiap jenis barang yang telah aku beli.Kala itu aku baru pulang kerja, lalu kuluangkan waktuku sejenak untuk berbelanja berbagai keperluanku, dan sebagian untuk membelanjakan barang-barang untuk keperluan ibuku yang dapat di konsumsi untuk sehari-hari.Dan hari ini kebetulan aku habis gajian.Aku bekerja sebagai seorang kasir di sebuah toko di area pusat perbelanjaan.Sebagai seorang anak yang berbakti kepada ayah dan ibu, dengan senang hati apabila sehabis gajian aku juga berbagi dengan mereka.Meskipun jumlah yang aku berikan itu tidaklah dalam jumlah yang banyak. Bahkan ibuku sering berpesan “ Nin, kalau kamu habis gajian, kamu jangan lantas membelikan semua barang- barang keperluan buat ibu. Lebih baik kamu tabung untuk masa depanmu nanti!’
Esoknya saat menikmati makan baso di kafetaria di area pusat perbelanjaan itu, mataku tak sengaja beradu pandang dengan pria yang kemarin menanyakan toilet itu. Aku sengaja bersikap sewajar mungkin dihadapannya dengan mengalihkan pandangan pada ponselku yang saat itu masih aku genggam, dan kebetulan posisi duduk aku berada di pojok menghadap tembok. Saat menikmati baso kulihat ada seorang bocah yang menjajakan kacang bawang, lalu aku melambaikan tangan dengan bahasa isyarat bila diriku akan membeli kacang bawang yang sedang ia jajakan.Aku pun membelinya. Maksud hati ingin membayar kacang bawang itu, tapi yang terjadi justru dari dalam dompet yang sedang aku buka itu, terjatuh kepingan uang logam senilai Rp 1000 lalu uang logam itu menggelinding tepat di kolong meja pria itu. Seketika itu , mukaku memerah.
Dengan menahan rasa malu kupaksakan diri meminta maaf kepadanya.Rona merah yang sempat kubayangkan muncul di wajahnya ternyata itu tidak terbukti. Justru ia tersenyum padaku. Lalu pria itu memungut kepingan uang logam itu untuk disodorkan padaku. Akupun menerima uang koin yang ia sodorkan dengan hati tak menentu.Kemudian aku membayar kacang bawang itu dengan uang kertas tanpa meminta uang kembalian.Bocah penjaja kacang bawang itu segera berlalu dari kafetaria dengan riang gembira.
Sudah menjadi kebiaasaanku, saat menikmati baso ditabur dengan kacang bawang.Rasanya lebih berselera.Tapi yang pasti setiap orang memiliki cita rasa yang berbeda.
Dia memperkenalkan diri, Ternyata namanya Dava.Postur tubuhnya tinggi, berkumis tipis, bila tersenyum nampak sederet gigi yang tertata rapi.Kurasa senyum itulah yang menjadi daya tarik utamanya. Kulitnya hitam manis dan bersih sangat terawat.Ia seorang manajer.
Melihat sikapnya yang ramah, akupun memperkenalkan diri.
“Aku Nina, dari Purwokerto”
Waktu bersamanya di kafetaria itupun berlalu.Aku terkesan bahwa dia seorang pria yang sopan santun, mudah akrab, seolah kami sudah berteman lama.
***
Kini hari-hariku diliputi dengan suasana riang gembira.Perkenalanku dengannya serasa membuat hidupku penuh makna, memberi warna bagi kehidupanku.
Merasa senasib karena sama-sama bekerja di area pusat perbelanjaan.Pertemuan sering terjadi walau tak di sengaja.Kadang di ruang parkir, kadang di mushola.Tapi yang paling sering adalah bertemu di kafetaria.
“Sudah makan belum?Hari ini biar aku yang traktir!’
Hm…lagu lama, pikirku.Namun aku tak tepengaruh oleh ajakannya.Sebab aku tidak ingin terjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengannya.Aku juga ingin menunjukan bahwa aku bukan wanita yang terlalu mudah menerima ajakan untuk di traktir makan. Lain halnya apabila makan bersama ia itu karena tanpa adanya unsur kesengajaan, ataupun karena kebetulan saja sedang kepergok di kantin itu.
Dia malah tergelak sambil bergumam” Jaga gengsi, nih”
“Memangnya aku ini typekal seorang cewek yang suka di traktir! Jangan-jangan ada maunya,nih!
Dia malah tertawa lebar.
“Kalau begitu kita berjanji kalau diantara kita hanya sebatas teman biasa saja!’
“ Ya iyalah, hanya sebatas teman” katanya dengan nada ringan dan tanpa adanya suatu beban.
***
Sejak itu pertemuan kerap terjadi.Hingga tak kusadari waktupun cepat berlalu.Tiada jemu untuk saling menyapa bila saling bertemu.Hari-hariku diwarnai oleh canda dan tawa. Tapi terkadang tanpa ia sadari, kata –kata yang terlontar olehnya seperti ungkapan teman tapi mesra.
Di dalam otaknya seperti tersimpan bermacam ide yang selalu membuatku jadi tertawa riang gembira.Tapi kelihatannya seperti spontan begitu saja.
Setiap malam sebelum aku tidur, dia menelponku untuk sekedar berbincang- bincang ataupun bercanda sepertinya biasa saja, namun memiliki sebuah makna yang sangat mendalam.Lalu menjadi rutinitas hariannya untuk mengucapkan kata, selamat tidur. Ataupun ia menanyakan jadwal kerjaku. Bahkan seringkali menanyakan besok mau makan di mana?.
Dia sangat terlihat menikmati pekerjaannya di pusat perbelanjaan di kota Bandung. Sama halnya sepertiku, bekerja dengan memaksimalkan segala potensi yang aku miliki, meski hanya sebagai seorang kasir.
Hingga pada suatu hari ia bercerita kalau dirinya akan mutasi kerja ke Surabaya .Pria itupun memutuskan akan segera pindah ke Surabaya.
Seakan tak percaya kalau dirinyaakan pindah secepat ini. Malam harinya , ia mengajakku berjalan-jalan.Berkeliling mengitari kawasan berbukit di daearah itu yang udaranya sangat sejuk.
“Nanti malam kita berkeliling di daerah perbukitan, ya?”
Dengan motor gede keluaran terbaru di tahun itu, kami menuju sebuah tepi bukit. Udara terasa sejuk, menjadi favorit kaum muda- mudi untuk melepas lelah dan segala kepenatan yang dirasakannya setelah bekerja di akhir pekan. Sembari menikmati sate kambing dan semangkok sop untuk menghangatkan badan, kami bebagi canda dan tawa.
Hari perpisahan itu pun datang melalui malam selepas senja. Saat ia menatapku , seolah-olah dirinya mengungkapkan isi hatinya yang sulit ku terjemahkan. Tapi yang kurasakan setelah ia menatapku, hatiku berdegup kencang. Kami larut dalam suasana romantic, tanpa suara dan percakapan.
Kala itu langit cerah.Cahaya lampu kerlap kerlip menghiasi daerah perbukitan itu, menambah suasana semakin romantis. Rasa bahagia yang sulit kulukiskan dengan kata-kata hadir dalam jiwaku. Meski aku telah berjanji padanya, bila hubunganku dengannya hanyalah sebatas teman dan takakan lebih dari itu.
Semilir angin di tepi bukit seolah membawa nyanyian sorga, mengantarkan getar-getar asmara di malam itu. Saat ia menggenggam tanganku, aku tak lagi menolaknya. Apakah ini yang dinamakan hubungan teman tapi mesra? Mengapa perpisahan ini begitu cepat?.
“Apa kamu mau menambah semangkuk sop?” Tanyanya, lalu menatapku dengan mesra. Sebuah tatapan yang tak akan kujumpai lagi setelah malam ini.
“Sudah cukup. Ini saja rasanya sudah kenyang”
Malam itu kami berceita tentang apa saja, tentang kehidupan. Baik itu cerita sedih ataupun cerita yang menyenangkan.Aku sendiri pun tidak tahu, apakah setelah ini ada kesempatan lagi untuk bertemu dengannya.
Udara malam di tepi bukit semakin terasa dingin.Ia memapahku ke saung di tepi bukit, lalu kami duduk berdua. Udara terasa lebih hangat, dan kamipun bisa lebih santai menikmati malam yang begitu indah.Tanpa ada seseorang yang datang menganggu.
Sesaat bayangan Ravi hadir dalam ingatanku.Kekasihku yang berlayar ke Korea.Ia telah berjanji untuk mencintaiku sampai akhir hayat. Apakah kepergianku dengan pria itu adalah bukti bawa aku telah menghianati cintanya?.Apakah ini yang dinamakan dengan cinta sesaat.
***
Keesokan harinya aku datang ke rumahnya untuk melepas kepergiannya, Ia pergi dengan menaiki mobil pribadinya. Kuucapkan selamat jalan dengan menahan rasa pilu di dada.Ingin rasanya aku menahan kepergiannya ke Surabaya. Namun aku tak mampu melakukan itu.Walaupun aku harus mengejarnya lari dengan kecepatan tinggi untuk mengikuti laju kendaraan yang membawanya pergi. Karena aku tahu, semua yang aku lakukan itu sungguh suatu kesia-siaan. Laksana tetes- tetes air yang basah tergantung pada sebuah kawat, air mataku terus menetes.
Pria itu pergi meninggalkan aku sendiri di kota kembang Bandung, tanpa adanya suatu ungkapan yang tulus dari kedalaman hatiku bahwa saat ini aku telah jatuh cinta kepadanya. Selama ini, perjumpaanku dengannya telah menumbuhkan ikatan batin yang menjadi benih cinta.Aku baru menyadarinya sekarang, benih cinta itu telah tumbuh dan bersemi di dalam hati. Biarlah aku ingkar pada cahaya-cahaya lampu yang menyinari kala malam di tepi bukit tempat di mana aku dan dia menghilangkan rasa penat pada akhir pekan setelah seminggu bekerja di pusat pertokoan di kota Bandung.
Selama matahari terbit dan menyinari bumi, akan selalu ada kisah cinta dimana kaum hawa yang telah mengingkari pada nalurinya sendiri, Lalu ia baru menyadarinya saat pria itu telah pergi dari kehidupannya. Setelah aku menyadari semua itu, aku hanya diam terpaku.Kini yang kudapati hanya ada pepohonan yang daunnya tergerak oleh terpaan angin.Andai angin mampu bersuara, kutitipkan pesan padanya” Kembalilah padaku, dan aku akan mencintainya untuk selamanya!”
Ya Rabb, Kuatkanlah hati hamba....!
Sosok yang sering berbagi cerita dan bercanda tawa, kini tiada lagi. Pohon yang menjulang tinggi, tak mampu membuatnya hadir dan menyapaku, walau itu hanya sekejap.Hanya ada semilir angin yang menerpa jiwaku yang kini terasa hampa tak ada lagi nyanyian sorga.
Ya Rabb, Jadikanlah hambamu ini sebagai orang yang sabar, laksana hati seluas samudra.
Dengan mengingat bayangannya, hati semakin tersiksa.
Ya Rabb, Ampunilah segala dosa-dosa hamba. Hamba akan berdzikir untuk selalu mengingatmu. Jadikanlah hamba sebagai seorang yang bisa menerima segala apapun ketentuan dari Mu.
selesai
N
Tem
K
CERITA ROMANTIS DI KOTA KEMBANG
OLEH: MUGIARNI
Sore itu , kota Bandung sangat ramai. Aku berjalan menyusuri kota itu. Dan aku sendiri tidak tahu, kemana kakiku harus melangkah.Di bawah langit biru dengan awan bergulung-gulung aku berjalan dalam kesendirian. Sementara aku terus bejuang untuk menghindarkan diri dari kepulan asap kendaraan bermotor. Ditambah lagi aku harus bertahan dari berbagai suara klakson yang bunyinya cukup memekakkan telinga. Ingin ku teriak, tapi rasanya aku tak mampu untuk mengekspresikan diri.
Kota Bandung memiliki kenangan tersendiri buatku.Kini hidupku terasa sunyi dan sepi sejak orang yang aku cintai itu pergi dari kehidupanku.
***
Tatkala hujan rintik-rintik di sore itu, aku kembali terkenang dengan sosok pria pujaanku.Meski dengan mengingatnya kembali, hatiku merasa sedih.Oh…ya, di antara kau dan aku sekedar teman biasa.Tak lebih dari itu.Jika ada perasaan yang lebih di antara kita berdua, anggap saja itu semacam hubungan kekeluargaan.Tapi yang pasti, bukan hubungan seperti kisah Romeo dan Juliet.
***
Di pusat pertokoan yang teramat ramai di kota Bandung kisah ini berawal .Di situlah awal mula kami bertemu.
“Neng, Toilet dimana, ya?” Pertanyaannya membuat aku tersentak kaget, karena aku sedang mengecek nota belanjaanku .
Aku hanya menunjuk ke arah toilet itu dengan jari telunjukku. Sementara wajahku masih tertunduk untuk mengamati berbagai jenis barang dan harga pada sebuah nota belanjaan yang tengah aku pegang dengan tangan kiriku. Sementara tangan kananku memegang sebuah pensil yang kugunakan untuk menunjuk setiap jenis barang yang telah aku beli.Kala itu aku baru pulang kerja, lalu kuluangkan waktuku sejenak untuk berbelanja berbagai keperluanku, dan sebagian untuk membelanjakan barang-barang untuk keperluan ibuku yang dapat di konsumsi untuk sehari-hari.Dan hari ini kebetulan aku habis gajian.Aku bekerja sebagai seorang kasir di sebuah toko di area pusat perbelanjaan.Sebagai seorang anak yang berbakti kepada ayah dan ibu, dengan senang hati apabila sehabis gajian aku juga berbagi dengan mereka.Meskipun jumlah yang aku berikan itu tidaklah dalam jumlah yang banyak. Bahkan ibuku sering berpesan “ Nin, kalau kamu habis gajian, kamu jangan lantas membelikan semua barang- barang keperluan buat ibu. Lebih baik kamu tabung untuk masa depanmu nanti!’
Esoknya saat menikmati makan baso di kafetaria di area pusat perbelanjaan itu, mataku tak sengaja beradu pandang dengan pria yang kemarin menanyakan toilet itu. Aku sengaja bersikap sewajar mungkin dihadapannya dengan mengalihkan pandangan pada ponselku yang saat itu masih aku genggam, dan kebetulan posisi duduk aku berada di pojok menghadap tembok. Saat menikmati baso kulihat ada seorang bocah yang menjajakan kacang bawang, lalu aku melambaikan tangan dengan bahasa isyarat bila diriku akan membeli kacang bawang yang sedang ia jajakan.Aku pun membelinya. Maksud hati ingin membayar kacang bawang itu, tapi yang terjadi justru dari dalam dompet yang sedang aku buka itu, terjatuh kepingan uang logam senilai Rp 1000 lalu uang logam itu menggelinding tepat di kolong meja pria itu. Seketika itu , mukaku memerah.
Dengan menahan rasa malu kupaksakan diri meminta maaf kepadanya.Rona merah yang sempat kubayangkan muncul di wajahnya ternyata itu tidak terbukti. Justru ia tersenyum padaku. Lalu pria itu memungut kepingan uang logam itu untuk disodorkan padaku. Akupun menerima uang koin yang ia sodorkan dengan hati tak menentu.Kemudian aku membayar kacang bawang itu dengan uang kertas tanpa meminta uang kembalian.Bocah penjaja kacang bawang itu segera berlalu dari kafetaria dengan riang gembira.
Sudah menjadi kebiaasaanku, saat menikmati baso ditabur dengan kacang bawang.Rasanya lebih berselera.Tapi yang pasti setiap orang memiliki cita rasa yang berbeda.
Dia memperkenalkan diri, Ternyata namanya Dava.Postur tubuhnya tinggi, berkumis tipis, bila tersenyum nampak sederet gigi yang tertata rapi.Kurasa senyum itulah yang menjadi daya tarik utamanya. Kulitnya hitam manis dan bersih sangat terawat.Ia seorang manajer.
Melihat sikapnya yang ramah, akupun memperkenalkan diri.
“Aku Nina, dari Purwokerto”
Waktu bersamanya di kafetaria itupun berlalu.Aku terkesan bahwa dia seorang pria yang sopan santun, mudah akrab, seolah kami sudah berteman lama.
***
Kini hari-hariku diliputi dengan suasana riang gembira.Perkenalanku dengannya serasa membuat hidupku penuh makna, memberi warna bagi kehidupanku.
Merasa senasib karena sama-sama bekerja di area pusat perbelanjaan.Pertemuan sering terjadi walau tak di sengaja.Kadang di ruang parkir, kadang di mushola.Tapi yang paling sering adalah bertemu di kafetaria.
“Sudah makan belum?Hari ini biar aku yang traktir!’
Hm…lagu lama, pikirku.Namun aku tak tepengaruh oleh ajakannya.Sebab aku tidak ingin terjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengannya.Aku juga ingin menunjukan bahwa aku bukan wanita yang terlalu mudah menerima ajakan untuk di traktir makan. Lain halnya apabila makan bersama ia itu karena tanpa adanya unsur kesengajaan, ataupun karena kebetulan saja sedang kepergok di kantin itu.
Dia malah tergelak sambil bergumam” Jaga gengsi, nih”
“Memangnya aku ini typekal seorang cewek yang suka di traktir! Jangan-jangan ada maunya,nih!
Dia malah tertawa lebar.
“Kalau begitu kita berjanji kalau diantara kita hanya sebatas teman biasa saja!’
“ Ya iyalah, hanya sebatas teman” katanya dengan nada ringan dan tanpa adanya suatu beban.
***
Sejak itu pertemuan kerap terjadi.Hingga tak kusadari waktupun cepat berlalu.Tiada jemu untuk saling menyapa bila saling bertemu.Hari-hariku diwarnai oleh canda dan tawa. Tapi terkadang tanpa ia sadari, kata –kata yang terlontar olehnya seperti ungkapan teman tapi mesra.
Di dalam otaknya seperti tersimpan bermacam ide yang selalu membuatku jadi tertawa riang gembira.Tapi kelihatannya seperti spontan begitu saja.
Setiap malam sebelum aku tidur, dia menelponku untuk sekedar berbincang- bincang ataupun bercanda sepertinya biasa saja, namun memiliki sebuah makna yang sangat mendalam.Lalu menjadi rutinitas hariannya untuk mengucapkan kata, selamat tidur. Ataupun ia menanyakan jadwal kerjaku. Bahkan seringkali menanyakan besok mau makan di mana?.
Dia sangat terlihat menikmati pekerjaannya di pusat perbelanjaan di kota Bandung. Sama halnya sepertiku, bekerja dengan memaksimalkan segala potensi yang aku miliki, meski hanya sebagai seorang kasir.
Hingga pada suatu hari ia bercerita kalau dirinya akan mutasi kerja ke Surabaya .Pria itupun memutuskan akan segera pindah ke Surabaya.
Seakan tak percaya kalau dirinyaakan pindah secepat ini. Malam harinya , ia mengajakku berjalan-jalan.Berkeliling mengitari kawasan berbukit di daearah itu yang udaranya sangat sejuk.
“Nanti malam kita berkeliling di daerah perbukitan, ya?”
Dengan motor gede keluaran terbaru di tahun itu, kami menuju sebuah tepi bukit. Udara terasa sejuk, menjadi favorit kaum muda- mudi untuk melepas lelah dan segala kepenatan yang dirasakannya setelah bekerja di akhir pekan. Sembari menikmati sate kambing dan semangkok sop untuk menghangatkan badan, kami bebagi canda dan tawa.
Hari perpisahan itu pun datang melalui malam selepas senja. Saat ia menatapku , seolah-olah dirinya mengungkapkan isi hatinya yang sulit ku terjemahkan. Tapi yang kurasakan setelah ia menatapku, hatiku berdegup kencang. Kami larut dalam suasana romantic, tanpa suara dan percakapan.
Kala itu langit cerah.Cahaya lampu kerlap kerlip menghiasi daerah perbukitan itu, menambah suasana semakin romantis. Rasa bahagia yang sulit kulukiskan dengan kata-kata hadir dalam jiwaku. Meski aku telah berjanji padanya, bila hubunganku dengannya hanyalah sebatas teman dan takakan lebih dari itu.
Semilir angin di tepi bukit seolah membawa nyanyian sorga, mengantarkan getar-getar asmara di malam itu. Saat ia menggenggam tanganku, aku tak lagi menolaknya. Apakah ini yang dinamakan hubungan teman tapi mesra? Mengapa perpisahan ini begitu cepat?.
“Apa kamu mau menambah semangkuk sop?” Tanyanya, lalu menatapku dengan mesra. Sebuah tatapan yang tak akan kujumpai lagi setelah malam ini.
“Sudah cukup. Ini saja rasanya sudah kenyang”
Malam itu kami berceita tentang apa saja, tentang kehidupan. Baik itu cerita sedih ataupun cerita yang menyenangkan.Aku sendiri pun tidak tahu, apakah setelah ini ada kesempatan lagi untuk bertemu dengannya.
Udara malam di tepi bukit semakin terasa dingin.Ia memapahku ke saung di tepi bukit, lalu kami duduk berdua. Udara terasa lebih hangat, dan kamipun bisa lebih santai menikmati malam yang begitu indah.Tanpa ada seseorang yang datang menganggu.
Sesaat bayangan Ravi hadir dalam ingatanku.Kekasihku yang berlayar ke Korea.Ia telah berjanji untuk mencintaiku sampai akhir hayat. Apakah kepergianku dengan pria itu adalah bukti bawa aku telah menghianati cintanya?.Apakah ini yang dinamakan dengan cinta sesaat.
***
Keesokan harinya aku datang ke rumahnya untuk melepas kepergiannya, Ia pergi dengan menaiki mobil pribadinya. Kuucapkan selamat jalan dengan menahan rasa pilu di dada.Ingin rasanya aku menahan kepergiannya ke Surabaya. Namun aku tak mampu melakukan itu.Walaupun aku harus mengejarnya lari dengan kecepatan tinggi untuk mengikuti laju kendaraan yang membawanya pergi. Karena aku tahu, semua yang aku lakukan itu sungguh suatu kesia-siaan. Laksana tetes- tetes air yang basah tergantung pada sebuah kawat, air mataku terus menetes.
Pria itu pergi meninggalkan aku sendiri di kota kembang Bandung, tanpa adanya suatu ungkapan yang tulus dari kedalaman hatiku bahwa saat ini aku telah jatuh cinta kepadanya. Selama ini, perjumpaanku dengannya telah menumbuhkan ikatan batin yang menjadi benih cinta.Aku baru menyadarinya sekarang, benih cinta itu telah tumbuh dan bersemi di dalam hati. Biarlah aku ingkar pada cahaya-cahaya lampu yang menyinari kala malam di tepi bukit tempat di mana aku dan dia menghilangkan rasa penat pada akhir pekan setelah seminggu bekerja di pusat pertokoan di kota Bandung.
Selama matahari terbit dan menyinari bumi, akan selalu ada kisah cinta dimana kaum hawa yang telah mengingkari pada nalurinya sendiri, Lalu ia baru menyadarinya saat pria itu telah pergi dari kehidupannya. Setelah aku menyadari semua itu, aku hanya diam terpaku.Kini yang kudapati hanya ada pepohonan yang daunnya tergerak oleh terpaan angin.Andai angin mampu bersuara, kutitipkan pesan padanya” Kembalilah padaku, dan aku akan mencintainya untuk selamanya!”
Ya Rabb, Kuatkanlah hati hamba....!
Sosok yang sering berbagi cerita dan bercanda tawa, kini tiada lagi. Pohon yang menjulang tinggi, tak mampu membuatnya hadir dan menyapaku, walau itu hanya sekejap.Hanya ada semilir angin yang menerpa jiwaku yang kini terasa hampa tak ada lagi nyanyian sorga.
Ya Rabb, Jadikanlah hambamu ini sebagai orang yang sabar, laksana hati seluas samudra.
Dengan mengingat bayangannya, hati semakin tersiksa.
Ya Rabb, Ampunilah segala dosa-dosa hamba. Hamba akan berdzikir untuk selalu mengingatmu. Jadikanlah hamba sebagai seorang yang bisa menerima segala apapun ketentuan dari Mu.
selesai
N
Tem
K
Komentar
Posting Komentar